jom klik

jom klik

LIKE JOM PILIH SAJA

Showing posts with label iktibar. Show all posts
Showing posts with label iktibar. Show all posts

Wednesday, November 24, 2010

soalan exam ni..

Seorang pemuda yang dikejutkan oleh mimpinya supaya pergi ke gereja Samaan. Tiga kali mimpinya itu berulang. Lalu ia bersiap sedia dengan pakaian dan cara yang diberitahu dalam mimpinya.

Ia masuk ke gereja Samaan tanpa disedari oleh Paderi-paderi yang hadir. Dia sama-sama menanti kedatangan ketua Paderi. Setelah ketua Paderi datang, ketua Paderi itu tidak dapat berucap. Dia tahu ada orang lain, orang Islam di dalam gereja itu. Katanya, " ada orang yang percaya kepada Syariat Muhammad di dalam gereja ini."

Semua paderi menjadi gempar dan mereka mahu orang itu di bunuh. Namun ketua paderi menghalang, sebaliknya ketua paderi meminta orang itu bangun supaya mereka dapat mengenalinya.Sebaliknya pemuda itu pun bangun, tanpa rasa takut.

Paderi berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan Dan anda harus menjawabnya dengan tepat. "

Si pemuda tersenyum Dan berkata, "Silakan!"

Sang paderi pun mulai bertanya, "Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada empat belasnya."

"Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam syurga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah Dan ibu!"

"Siapakah yang tercipta dari api,siapakah yang diazab dengan api Dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diazab dengan batu Dan siapakah yang terpelihara dari batu?"

"Sebutkan sesuatu yang diciptakanAllah Dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan Dan dua di bawah sinaran matahari?"

Mendengar pertanyaan tersebut, pemudaitu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah.

Setelah membaca Bismillah dia berkata,

-Satu yang tiada duanya ialah Allah s.w.t..

-Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah s.w.t. Berfirman, "Dan Kami jadikan malam Dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)." (Al-Isra': 12).

-Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil Dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.

-Empat yang tiada limanya adalah Taurat,Injil, Zabur Dan al-Qur'an.

- Lima yang tiada enamnya ialah Solatlima waktu.

-Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlahHari ketika Allah s.w.t. Menciptakan makhluk.

-Tujuh yang tiada delapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah s.w.t. Berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).

-Delapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy AR-Rahman. Allah s.w.t. Berfirman, "Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada Hari itu delapan orang malaikat men-junjung 'Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).

-Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu Dan belalang.*


-Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah s.w.t. Berfirman, "Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).


-Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf .


-Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah,

"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas Mata air." (Al-Baqarah: 60).


-Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah Dan ibunya.


-Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh. Allah s.w.t. ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. " (At-Takwir: 18).


-Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus AS.


-Mereka yang berdusta namun masuk kedalam surga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barangkami, lalu dia dimakan serigala. " Setelah kedustaan terungkap,Yusuf berkata kepada mereka, " tak ada cercaan terhadap kamu semua." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagi muka pada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ." (Yusuf:98)

-Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keldai. Allah s.w.t. berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keldai." (Luqman: 19).


-Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam, Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim.


-Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diazab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah s.w.t. berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya': 69).


-Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diazab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashabul Kahfi (penghuni gua).


-Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu Daya wanita, sebagaimana firman Allah s.w.t.? "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).


-Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.

Paderi dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda Muslim tersebut. Kemudian dia pun mula hendak pergi. Namun dia mengurungkan niatnya dan meminta kepada paderi agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh paderi.

Pemuda ini berkata, "Apakah kunci syurga itu?"

mendengar pertanyaan itu lidah paderi menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Dia berusaha menyembunyikan kebimbangannya, namun tidak berhasil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun dia cuba mengelak.

Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya dia jawab, sementara dia hanya memberi cuma satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "

Paderi tersebut berkata, "Sesungguh aku tahu jawapannya, namun aku takut kalian marah."

Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda. "

Paderi pun berkata, "Jawapannya ialah: Asyhadu An La Ilaha Illallah Wa Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah. "

Lantas paderi dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda Muslim yang bertakwa.

(Di petik dan disusun dari Mausu'ah al-Qishash al-Waqi'ah )

aq ni yg bnyk wat dosa

Rasulullah S.A.W. bersabda yang maksudnya :
"..tiap-tiap manusia berpagi-pagi atau bangun pagi, ada yang menjual dirinya, lalu dimerdekakannya atau dibinasakannya " ( HR Muslim)

Manusia itu terbahagi kepada dua bahagian :

Pertama : Yang menjual dirinya kepada Allah dengan cara mengerjakan amal saleh. Maka dengan perbuatannya ini Allah merdekakakan mereka dari kesengsaraan azab.

Kedua : Yang menjual dirinya kepada syaitan dan kepada hawa nafsu dengan mengikuti kehendaknya. Maka dengan usahanya ini dia sendiri membinasakan dirinya .

Maka nyatalah bahawa tiap-tiap manusia ada yang berusaha untuk membaiki dirinya dan ada pula yang berusaha untuk merosakkannya. Orang yang berusaha untuk taat kepada Allah bermakna menjual dirinya kepada Allah , dan ia dibebaskan dari sengsara. Sebaliknya orang yang bekerja untuk melakukan maksiat kepadanya bermakna menjual dirinya dan menukarnya dengan kebinasaan. Akibatnya ia menerima kesusahan.


Thursday, November 4, 2010

aq sedih

Allah SWT berfirman:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”

(QS. Al Isra: 23-24)

- OLEH USTAZ NAHRAWI MARZOKI

Sebaik sampai ke pintu wad, jeritan Jalal menerpa ke telinga saya.

Jeritannya sungguh kuat kerana azab dan sakit yang ditanggungnya tidak mampu ditanggung lagi.

Saya percepatkan langkah menuju ke katilnya.

Di sisi katil saya lihat ahli keluarga Jalal sedang menangis tersedu-sedu.

Jelas mereka panik dan tidak tahu apa yang perlu dilakukan,

kecuali melihat Jalal menggelepar kesakitan dan berdoa semoga Jalal cepat sembuh.

Di katil pula, Jalal meraung dan meronta sambil tangan dan kakinya terikat kemas di katil.

"Terima kasih ustaz sebab sudi datang bantu kami.

Saya dah tak tahu apa nak buat.

Dah seminggu lebih adik saya macam ni,"

kata salah seorang abang kepada Jalal sebaik melihat saya sampai.

Sebelum itu mereka menghubungi saya melalui telefon meminta saya segera datang untuk membantu menyembuhkan penyakit adik bongsu mereka itu.

"Apa sakitnya ni?" tanya saya.

"Entahlah ustaz, doktor pun tak tau."

Sedang kami berbual, tiba-tiba sekali lagi Jalal menjerit kesakitan.

Kali ini jeritannya cukup jelas di pendengaran saya.

Jeritannya menakutkan dan menyedihkan.

"Emak, ampunkan saya mak.

Panaaaassss.

Saya sakit mak, sakiiiiittttttt! Tolonglah emak, ampunkan dosa saya."

Berserta raungan yang dilepaskan sekuat hati,

tubuh Jalal menggelepar seperti dipanggang di dalam api yang marak.

Mukanya berkerut sementara matanya terbelalak akibat azab yang amat pedih.

Semua yang ada di wad berkenaan memandang ke arah kami.

Jeritan itu menyebabkan saya tertanya-tanya.

Apakah yang menyebabkan Jalal jadi sedemikian rupa?

Apa pula kaitan antara penyakitnya itu dengan ibunya?

"Panggil ibunya segera," kata saya.

Namun kata-kata saya itu tidak dijawab.

Ahli keluarga Jalal cuma terdiam, menundukkan muka atau berpandangan sesama sendiri.

"Kenapa ni?" tanya saya.

Dengan perlahan abang Jalal bersuara,

"Ustaz, ibu kami baru sahaja meninggal dunia dua minggu lepas."

"Kalau macam ini susahlah sikit.

Saya rasa mungkin Jalal ada melakukan kesalahan besar kepada ibunya,

sebab itulah dia menanggung azab yang begini rupa.

Dalam keadaan macam ini, cuma ibunya saja yang dapat membantu," kata saya berterus terang.

Mereka cuma mendiam diri sementara jeritan Jalal semakin kuat.

Saya semakin ingin mengetahui puncanya kerana dengan latar belakang itu insyaAllah saya boleh cuba carikan jalan lain untuk meredakan kesakitan Jalal.

"Ceritakanlah kepada saya apa yang sebenarnya telah berlaku."

"Ustaz, sebenarnya adik saya ini sudah derhaka kepada arwah ibu kami,"

jawab salah seorang daripada mereka.

Dengan tenang, tapi air mata bergenang abang Jalal menceritakan kepada saya kisah yang sebenarnya,

kisah yang cukup menyayat hati saya.

Menurutnya, Jalal adalah anak bongsu daripada mereka enam beradik,

empat perempuan dua lelaki dan di kalangan mereka, Jalallah yang mempunyai kelulusan yang lebih tinggi.

Bagaimanapun, sejak kecil hinggalah dia bekerja dan seterusnya berkahwin,

Jalal sentiasa sahaja melawan dan menyanggah kata-kata ibunya.

Nasihat dan teguran ibunya pula dipandang rendah serta tidak diendahkan.

Syurga anak di bawah telapak kaki ibunya.

Walaupun berpendidikan tinggi, Jalal sentiasa sahaja kekurangan wang, seolah-olah tidak dirahmati rezekinya. Berterusanlah keadaan itu hingga dia berumahtangga.

Keadaan menjadi semakin buruk apabila Jalal meletakkan jawatannya di sebuah syarikat swasta.

Hasratnya adalah untuk mencari rezeki yang lebih banyak di syarikat lain,

namun nasibnya bukan sahaja tidak berubah, malah menjadi semakin parah.

Walau di syarikat manapun yang Jalal bekerja,

dia akan menghadapi masalah yang seterusnya membawa kepada dia meletakkan jawatan.

Dalam kegawatan itulah Jalal mula meminjam wang daripada sahabat-sahabatnya.

Selepas sekian lama hutangnya semakin banyak, namun dia masih tidak mampu melunaskannya.

Rumahtangga Jalal mula kucar-kacir dan akhirnya mereka bercerai.

Bagi menyelesaikan masalah tersebut, Jalal mendesak ibunya supaya mencagarkan tanah mereka di kampung kepada bank.

Tanah seluas 12 ekar itu ditinggalkan oleh bapa mereka yang meninggal dunia tiga tahun sebelum itu.

"Emak, saya nak tanah tu. Bank dah setuju nak kasi RM500,000.

Saya nak duit tu buat berniaga," katanya kasar.

"Jalal, engkau ni dah melampau.

Itu tanah adik-beradik kamu," jawab si ibu.

"Ahhh, saya tak kira."

"Jalal, emak tidak benarkan. Emak tau,

duit tu nanti bukannya engkau nak buat berniaga, tapi nak bayar hutang," jawab ibunya.

Bukan sahaja ibunya, malah semua adik-beradik Jalal tidak membenarkannya mencagarkan tanah tersebut kepada bank.

Jalal pulang dengan hati kecewa.

Namun dia masih bertekad untuk mendapatkan tanah berkenaan walau dengan apa cara sekalipun.

Suatu hari, Jalal datang ke rumah ibunya.

Beberapa orang adik-beradiknya ada di situ.

Sekali lagi pertengkaran berlaku dan berakhir dengan tragedi yang amat menyedihkan.

Ketika kemarahannya sampai kemuncak,

Jalal menolak ibunya sekuat-kuat hati menyebabkan kepala ibunya terhantuk di pintu.

Darah dari luka terpalit di pintu sedang ibunya terjelopok di lantai, rebah tidak sedarkan diri.

Si ibu segera dibawa ke hospital sementara Jalal puas hati kerana dapat melepaskan kemarahannya.

Akibat pendarahan otak yang serius, ibunya meninggal dunia tanpa sempat melafazkan keampunan kepada Jalal. Bermulalah azab dalam hidup Jalal.

Kira-kira seminggu selepas kematian ibunya, Jalal dikejarkan ke hospital kerana jatuh sakit secara tiba-tiba.

Apa yang membingungkan ialah doktor gagal mengesan penyakit yang dihadapinya.

Jalal sebaliknya meraung, menjerit, meronta dan menggelepar kesakitan.

Dalam raungannya itulah dia meminta ampun kepada arwah ibunya kerana tidak sanggup menanggung azab yang pedih. Berterusanlah keadaannya selama beberapa hari hingga saya dipanggil.

Dalam waktu itu, doktor dan jururawat tidak dapat berbuat apa-apa kecuali mengikat Jalal di katil dan menyuntiknya dengan ubat pelali untuk menidurkannya.

"Kalau begitu kisahnya, saya cuba cara lain," kata saya.

Di samping ayat-ayat suci al-Quran, saya membacakan surah Yassin untuknya.

Namun apabila dibacakan saja ayat suci itu, Jalal menjerit kepanasan.

Tubuhnya menggeletik dan menggelepar kesakitan.

"Aduh panasnya! Emak, ampunkanlah saya emak! Jangan bawa saya ke situ = emak, panas. Jangan bawa saya ke situ. Saya tak mau, sakit, sakit. Tolonglah = saya emak, ampunkan saya, saya bersalah."

Jeritan Jalal itu meruntun hati saya. Apakah yang dimaksudkannya dengan 'ke situ'?

Kenapa Jalal tidak mahu dibawa 'ke situ' dan apa yang dilihatnya di situ?

Akibat tidak tertahan panas, tubuh Jalal terpaksa dibogelkan.

Tangan dan kakinya terus diikat ke katil.

Selepas puas mencuba tapi keadaan Jalal masih tidak berubah, saya meminta diri untuk pulang.

Satu ingatan saya tinggalkan kepada mereka, "Jika Jalal masih hidup selepas zuhur ini, insya-Allah nyawanya masih panjang.

Kalau tidak..." Ketika itu lebih kurang pukul 10 pagi.

Saya tinggalkan mereka, namun sedang saya memandu, telefon bimbit saya berdering.

"Ustaz! Cepat ustaz, adik saya dah nazak," kata si abang.

Saya berpatah balik dan apabila sampai di katilnya, saya lihat Jalal begitu tenat.

Nyawanya seperti sudah di penghujungan.

Keluarganya semakin cemas sambil air mata tidak henti-henti mengalir.

Saya bacakan Surah al-Asr, Surah al-Falaq, Surah an-Naas serta asma ul husna.

Alhamdulillah, Jalal berhenti meraung dan menggelepar.

Keadaan senyap seketika.

Masing-masing beristighfar dan membaca ayat-ayat suci al-Quran.

Terbayang kelegaan di wajah mereka.

Tiba-tiba, ketenangan itu dipecahkan sekali lagi oleh jeritan Jalal.

Dia mengerang sambil tubuhnya kejang menahan kesakitan, mata terjegil seperti hendak terkeluar dan dalam satu detik yang serentak juga najisnya terpancut keluar.

Bertabur membasahi seluarnya.

Bau najis menusuk hidung kami.

Maha suci Allah, keadaannya adalah seperti sesuatu yang berat menghenyak perutnya yang mengakibatkan nyawa, roh, najis, organ-organ dan segala-galanya yang ada di dalam tubuh terhambur keluar secara serentak.

Di bahagian atas, semuanya seperti hendak terpancut keluar hingga mata Jalal tersembul sementara di bahagian bawah, kakinya kaku dan najis berhambur memancut-mancut.

Cukup aib dan menyedihkan.

Pakaian dan katil basah dengan air mata, peluh serta najisnya.

Selepas 'rentapan' itu, Jalal tidak bernafas lagi.

Degupan jantungnya berhenti dan dia pergi menghadap Allah SWT untuk menerima balasan amalannya.

Tamatlah riwayat seorang anak derhaka.

Saya cuma mampu melihat dengan gementar sementara keluarga Allahyarham menangis dan berpelukan sesama sendiri.

Yang perempuan terpaksa keluar kerana tidak sanggup melihat mayat adik mereka.

Demikianlah sakaratulmaut datang menjemput Jalal.

Seperti yang dijelaskan di dalam al-quran dan hadis, ia datang dengan menyentap, merentap dan merenggut nyawa Jalal tanpa ada kasihan belas.

Sudah berpuluh-puluh tahun saya menguruskan jenazah dan melihat orang menghadapi saat kematiannya, namun pengalaman menyaksikan sakaratulmaut menjemput Jalal cukup memilukan hati saya.

Kesengsaraan yang ditanggung oleh Jalal sudah berakhir, namun mayatnya meninggalkan keaiban yang amat sangat. Matanya terbonjol seperti hendak terkeluar sementara giginya menyeringai.

Dari kerut wajahnya, jelas sekali Allahyarham baru sahaja menanggung kesakitan dan azab yang amat pedih.

Saya cuba pejamkan mata Allahyarham, namun gagal.

Kelopak mata tidak berupaya untuk menutup biji matanya yang tersembul itu.

Cukup mengerikan kerana hanya mata putih sahaja yang kelihatan.

Ikatan di kaki dan tangan Allahyarham dileraikan dan tangannya dikiamkan.

Kaki Allahyarham dirapatkan, namun sekali lagi saya menyaksikan keaiban kaki Allahyarham tidak boleh dirapatkan kerana duburnya terpancut keluar dan membonjol di celah kelengkangnya.

Saya menenangkan mereka supaya bersabar dan reda dengan apa yang telah terjadi.

Selesai membersihkan tubuh Allahyarham, jenazah dibawa turun kerana keluarganya mahu menguruskan jenazah tersebut di rumah mereka di salah sebuah taman perumahan di sebuah negeri di pantai barat semenanjung. Rupa-rupanya keaiban belum berakhir.

Sebaik sahaja van yang membawa Allahyarham keluar dari perkarangan hospital, tiba-tiba keempat-empat shock absorbernya patah secara serentak.

Van yang cuma membawa lima orang, mayat yang badannya sederhana sahaja, dua orang abang dan kakaknya, pemandu serta seorang pembantu, boleh patah shock absorbernya?

Kelindan van bergegas memanggil kami.

Maha suci Allah, Tuhan yang Maha Besar, apabila hendak dikeluarkan dari van, jenazah itu kami rasakan teramat berat hingga terpaksa diangkat oleh kira-kira 15 orang.

Selesai masalah itu, satu lagi masalah timbul ,

tidak ada van atau kereta yang berani untuk mengangkat jenazah tersebut.

Kebetulan sebuah lori kosong yang mengangkat tanah,

pasir ataupun kelapa sawit lalu di tempat kejadian.

Dengan lori itulah jenazah dibawa pulang ke rumahnya.

Apa yang membingungkan kami ialah walaupun mayat berkenaan terlalu berat,

tapi kayu penusungnya tidak pula patah.

Lori bertolak ke rumah Allahyarham sementara saya pula memandu pulang ke rumah.

Saya dimaklumkan bahawa Allahyarham dikebumikan di sebelah kubur ibunya.

Namun diceritakan juga kepada saya bahawa tanah yang ditambun ke atas kuburnya tidak mencukupi.

Untuk mengelakkan kubur Allahyarham berlubang, tanah lain terpaksa diambil dan ditambur ke atasnya.

Tiga hari kemudian, saya menerima panggilan telefon daripada keluarga Allahyarham.

"Ustaz, saya nak minta pertolongan dan pandangan daripada ustaz."

"Apa masalahnya itu?" tanya saya.

"Kubur adik saya berlubang ustaz."

Masya-Allah, demikian sekali keaiban yang Allah tunjukkan kepada anak yang derhaka kepada ibunya.

Menurut abang Allahyarham, kewujudan lubang itu disedari sehari selepas Allahyarham dikebumikan.

Lubang tersebut bermula dari bahagian tengah kubur hinggalah mencecah kepada papan yang menutup liang lahad. Tambah abang Allahyarham lagi, mereka mengambusnya dengan tanah,

namun keesokan harinya kubur tersebut berlubang semula.

"Begini sajalah, cuba masukkan sekali kayu atau papan ke dalam lubang tersebut,

insya-Allah, tak berlubang lagi," kata saya.

Namun keesokan harinya sekali lagi abang Allahyarham menghubungi saya memberitahu bahawa kubur berkenaan berlubang semula.

Apa yang membingungkannya, tanah di kubur arwah ibunya langsung tidak berubah, masih tetap membusut walaupun sudah lebih dua minggu dikebumikan.

Bukan itu sahaja, katanya, pokok yang ditanam di kubur ibunya juga hidup segar sedangkan pokok yang ditanam di kubur adiknya mati kelayuan.

Pada hari kelima, saya menghubungi abang Allahyarham.

"Begini sajalah," kata saya. "Mulai malam ini buatlah majlis Yassin dan tahlil.

Panggil 20 orang dan setiap seorang baca Surah Yassin sebanyak 2 kali.

Apabila selesai bacaan Yassin, minta imam bacakan doa supaya diampunkan dosa Allahyarham kepada ibunya.

Baca dalam bahasa Melayu dan ulang doa itu sebanyak tujuh kali."

Seperti yang saya nasihatkan, pada malam berkenaan mereka mengadakan majlis itu.

Namun saya diberitahu, imam yang membaca doa tersebut menggigil ketakutan.

Alhamdulillah, pada hari ketujuh, kubur berkenaan tidak lagi berlubang.

Peristiwa ini sudah berlaku empat tahun lepas namun masih terbayang-bayang di mata saya.

Setiap kali tibanya hari raya aidilfitri, setiap kali itulah peristiwa tersebut menjelma dalam ingatan kerana ia terjadi cuma beberapa hari selepas kita berhari raya.

Sungguh menyentuh hati saya, ketika orang sedang bergembira berhari raya, ketika itulah keluarga tersebut ditimpa petaka, si ibu meninggal dunia dan anaknya yang derhaka diazab hingga ke akhir hayatnya.

Kisah ini saya paparkan bukan untuk mengaibkan Allahyarham ataupun keluarganya,

tapi supaya kita dapat mengambilnya sebagai pedoman dan iktibar.

Doakanlah semoga dosa Allahyarham Jalal diampunkan Allah. 

Amin Ya Rabbal Alamin...


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...